Friday, February 19, 2016

Sebelum Saya Mati

Kalau kamu bingung, bagus! berarti kamu berpikir –Sigra, Teater Rentak Harmoni, 30 Januari 2016.

Setidaknya quote itu yang terus saya dengung-dengungkan untuk melegitimasi hari-hari tidak jelas saya belakang ini. Hari-hari di minggu yang sukses membuat saya bingung entah mau jadi apa kedepannya. I hate weekend, seriously, even a have-nothing-to-do weekend. Yaitu weekend kemarin yang pada minggu malam yang lalu membawa saya pada renungan ke-sekian tentang mimpi, masa depan dan pertanyaan Haruskah saya muluk-muluk?

Kegalauan itu muncul pasca saya membaca salah satu artikel di buku yang dengan sangat bersyukurnya saya dapatkan secara gratis, Demi Keadilan: Antologi Hukum Pidana dan Sistem Peradilan Pidana. Salah satu artikel dalam buku tersebut berhasil menarik saya untuk membaca, terlebih lagi judulnya eye catching karena menyertakan istilah pop Indonesia sepanjang masa, dan tidak lepas juga dari ketertarikan saya dengan tema artikel tersebut dan juga penulisnya.

Benar saja, entah asalnya dari mana, isi artikel tersebut mengerucut pada salah satu isu nasional yang sedang hangat saat ini, yang kemudian membawa saya menyelami pemikiran sang penulis, membawa saya pada tulisan-tulisan sang penulis lainnya di buku lain yang pernah saya baca, menghubungkan siapa sang penulis sekarang, dengan namanya yang terkenal seperti Hardman dalam serial Suits, begitulah kira-kira.

Tulisan sang penulis pun berhasil membuat saya tercengang sebentar dan kemudian pundak saya naik sesaat, dilanjuti perut buncit saya yang membesar, maksudnya saya menghela nafas. Saya bertanya-tanya hal yang dengan bodohnya baru saya sadari setelah 3,5 tahun.

Mengapa sekarang orang cenderung mengabaikan kebenaran hakiki hanya untuk mempertahankan formalitas, lalu si nurani kemana?

Hal- hal yang substansi justru diabaikan hanya karena formalitas (yang sejatinya formalitas itu dikonstruksikan) tidak terpenuhi? Lalu dimana letak adilnya? Dan dengan cerdasnya saya sadar bahwa saya termasuk orang tersebut.

Pasca hari itu saya berjalan dengan mengerutkan kening saya, kertas penuh coretan yang harusnya saya perbaiki, saya abaikan begitu saja. Saya merasa dibodohi dengan ini semua, termasuk kertas tersebut, kemudian saya mempertanyakan masa depan kertas tersebut, dan sangsi bahwa apa yang akan saya tulis akan terlaksana, kalau semuanya hanya demi kepentingan uang, cih!

Saat itu saya mempertanyakan kenapa sekarang saya ada disini?
Kerut di kening saya justru tambah panjang pasca Selasa, 16 Februari 2016, setelah saya menyaksikan acara Indonesia Lawyers Club dengan tema… ya itu lah pokoknya dengan pengisi acara multidisipliner (sebelumnya saya jarang menonton acara ini, istilahnya Cuma bakal ngaruyung disitu aja)  

Setelah menonton acara tersebut, saya berani jamin, banyak teman-teman yang akan merasa hal yang sama dengan saya. Malu jadi anak hukum, dengan pendapat yang didasarkan pada hal yang  katanya hak asasi manusia, yang harusnya saya ingat, konstruksinya tidak terlepas dari yang namanya politik. Membuat saya jadi lupa hal-hal yang esensi dan nyata, yang berdasarkan penelitian ahli yang beneran ahli, penelitian yang beneran penelitian.

Kesimpulan ini yang saya tangkap dari acara tersebut, yang semakin membawa saya pada pertanyaan kenapa saya ada disini, dan lebih kenapanya lagi, kenapa saya tidak bisa bodoamat dengan isu ini.

Kenapa-kenapa saya selanjutnya terjadi pada Rabu 17 Februari 2016. Saya bertemu dengan Prof Dr dr. Agus Purwadianto, S.H., M.Si., Sp.F(K) untuk keperluan skripsi saya. Beliau adalah dokter forensik Indonesia yang juga menempuh pendidikan hukum. Walaupun kenapa-kenapa dalam otak saya bertambah pasca bertemu beliau, saya merasa sangat bersyukur pertemuan hari itu pernah terjadi di hidup saya.

Beliau menjelaskan bahwa yang sekarang ditinggalkan oleh orang-orang adalah etika, mendasarkan semua pada what they say hak asasi manusia. Padahal pembentukkan hukum sendiri pun berdasarkan pada etika. Harusnya yang dipelajari etikolegal sehingga pembentuk peraturan ngga akan ngekor aja, nah yang sekarang? liat! hukumnya ngekor. 

Memang banyak yang salah dari Negara ini, termasuk dengan hukum. Tapi kalau memang dasarnya jelas, sejatinya ketidakjelasan ini tidak akan terjadi. Coba lihat kembali filsafat hukum Pound yang menyatakan Law is the social engineering, hukum digunakan untuk mengkreasikan masyarakat yang baru. Selama ini yang dihasilkan apa? Pada sistem peradilan pidana, kalau ada usul baru selalu ditentang ini itu, alasannya hak asasi manusia, padahal kebijakan tersebut belum dicoba. Kebijakan tersebut sebenarnya bisa dicoba sambil dievaluasi ketika dilaksanakan, dari pelaksanaan tersebut pun penelitian hukum akan terus berjalan, orang akan terus berpikir.

Pada kenyataannya memang hukum harus dikritik, itu tandanya manusia berpikir.

Kembalikan pada awal tujuan pembentukan hukum, ngomongnya HAM-HAM mulu, doelmatigheid juga harus dlihat dong, Jeremy bentham ingat, greatest happiness for the greatest number, kita kan tetap tidak merendahkan martabat manusia, toh hak-hak mendasarnya tetap dipertimbangkan.

Ini setiap ada pembincangan tentang kebijakan baru ditentang mulu, ketahuan ngga mau mikirnya.

Bahkan dengan lucunya beliau juga bilang hukum ini skizofren, hidup di dua alam berbeda, masyarakatnya dimana hukumnya masih di zaman romawi.

Saya merasa ditampar-tampar ketika berbicang dengan Prof Agus tersebut, beliau dengan profesi dokternya dan kuliah hukum yang hanya sebentar bisa mendasarkan pendapatnya dengan filsafat hukum yang wow. Walaupun Anak sore, gini-gini bisa diadu filsafat hukumnya.

Dari pengalaman-pengalaman saya diatas memang menghasilkan begitu banyak kenapa dalam otak saya, jujur, saya takut ketika mati nanti saya tidak akan mendapatkan apa-apa dari hidup saya. Saya takut nanti Allah Swt hanya akan bilang Oh kamu Maidina, yang kebetulan lewat di dunia itu yah.

Tapi disisi lain saya mempertanyakan apakah saya bisa jadi apa-apa atau apakah saya bisa memberikan apa-apa untuk hidup saya ditengah keadaan yang begini?

Akhir-akhir ini saya sering bertanya-tanya Kenapa saya tidak jadi seperti Uni saya saja ya?, setiap hari bisa menolong orang lain, tanpa harus pusing sendiri dengan isu-isu politik yang membunuh kebenaran hakiki, kenapa ya?

Saya harus bisa menemukan jawabannya, secepatnya, dengan berpikir, sebelum saya mati.


Kalau kamu bingung, bagus! berarti kamu berpikir –Sigra, Teater Rentak Harmoni, 30 Januari 2016.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home