Friday, January 6, 2023

Menulis lagi untuk diri sendiri hari ini

Susah sekali punya kesempatan menulis lagi di sini, bukan serta merta tidak punya waktu... tapi jujur saya takut. Mungkin sudah cukup lama, beberapa tahun ini, saya tak cukup mengenal perasaan apa yang saya rasakan.. dan jadi sulit juga ingin menulis jujur. Platform ini salah satunya yang menyediakan ruang untuk saya menulis, mengarungi apa yang saya rasa... tapi sekarang hal itu mulai sulit saya lakukan...

Lantas malam ini saya akan melakukannya kembali, mencoba menuliskan apa yang saya rasa, tanpa perlu merasa takut menyatakannya, tak perlu juga menginvalidasi diri sendiri, lantaran takut dengan persepsi sekitar saya, saya akan mencoba. 

Saya ingin menuliskan tulisan ini dalam bahasa inggris, tapi ternyata saya lebih nyaman dengan menggunakan bahasa indonesia, paling tidak memang kalau saya sedih, yang di bayangan kepala saya masih bahasa indonesia. 

Tanggung jawab baru begitu lumayan sulit buat saya, karena semua saya raba-raba tanya tanya sendiri dan bangun sistem yang ada. Beberapa waktu lalu saya pernah bukan platform ini, wah ternyata benar, saya kehilangan waktu menulis sesuka hati saya di sini, tepat di bulan dimulainya tanggung jawab baru tersebut, kemudian pandemi, kemudian hidup saya tak lagi sama, kemudian ayah saya meninggal, kemudian dunia menjadi tidak rasional. 

2021 saya akui itu mulainya tahun terberat saya dalam hidup, awal tahun, masih dalam masa pandemi, saya harus mawas diri karena hanya saya yang tersisa untuk merawat orang tua orang tua saya, ketika itu paman saya yang single masih hidup, ayah saya masih ada, dan bersama Ibu saya. Ayah saya dan Paman saya di awal 2021 sakit bersamaan. Saat itu hidup benar-benar tak mudah. Belum lagi mendapati juga komentar kerabat lain soal ketidakmampuan saya menjaga Paman dan Ayah tersebut, Pernah satu waktu benar-benar melelahkan, Ayah saya masuk rumah sakit untuk operasi, Paman saya homecare untuk persiapan dibawa ke kampung untuk dirawat kerabatnya yang lain-- di waktu itu juga saya bertanggung jawab sebagai manager tempat saya bekerja, Alhasil ya gitu-gitu aja saya atur antara rawat orang tua orang tua saya, sembalin memenuhi ekspektasi kerabat lain soal 'hospitality' yang layak, lalu juga kewajiban saya dalam pekerjaan. Wah kalau ingat saya bergetar rasanya dada ini. Mau bilang bangga sama diri sendiri aja ini saya takut, selalu pikir saya ngga layak untuk apreasiasi diri saya, toh orang yang hidupnya lebih susah banyaak. 

2021 kemudian berlanjut, di awal tahun lalu, Paman saya meninggal dunia di kampung.. benar-benar sekitar hanya 1 minggu setelah ia tiba di kampung. Lalu lah kehidupan berlanjut saya bersama kedua orang tua saya, bertiga tinggal bersama. Ini tantangan yang baruu karena secara "official" kedudukan manager nya berubah, karena orang tua saya berpindah ke tempat tinggal saya selama pandemi, jadi yang mengatur lebih banyak saya, bersamaan juga dengan pekerjaan saya. WHOA ini masa paling jungpalitan dalam hidup, juga di kantor tantangannya ada banget wkwkw, banyak emosi sana sini. Alhasil juga emosinya saya tumpahkan juga ke orang tua saya :" TAPI yang saya kagumi pada masa ini saya punya pembagian jadwal 24 jam waktu saya untuk membaca, istirahat, ibadah, urus rumah dan bekerja DAN SAYA LAKUKAN loh, saya kuat-kuat aja, bahkan waktu tidur saya hanya maksimal 5 jam. Tapi bisa saya kerjakan.... dan saya merasan content karena rasanya bermanfaat dalam hidup.. TAPI YA SEKARANG MAU PUNYA JADWAL JUGA NGGA PERNAH DIPATUHI.... KENAPA YA. 

Tapi di pertengahan 2021 tersebut, hidup gloomy sekali, di hari ulang tahun saya, Ayah saya masuk rumah sakit, jadinya pun juga tak ada yg ucapkan happy birthday hepi hepi dengan saya, sayanya aja sedih, wkwkw. Jadinya sejak itu ulang tahun tak pernah sama. Pasca masuk rumah sakit itu, kondisi Ayah saya sudah menurun terus, tapi kami masih bawa ia pulang kampung pada akhir Juli 2021 tersebut. Eh namun, 3 Juli 2021, Ayah saya meninggal dunia, kena covid delta, yang sebulan Juli 2021 sangat menakutkan dan menyedihkan dunia saya.. dan orang sekitar saya..

Pasca ayah saya meninggal... saya pikir saya kuat-kuat saja karena sejujurnya saya juga bukan tipe yang cerita banyak ke ayah saya, paling tidak ngga pernah bicara-bicara pribadi... tapii...... ternyata ya benar, semua kehilangan akan terasa kalau benar-benar sudah hilang. 

Wah kacau! 2022 awal itu titik terendah hidup saya.... yang membuat saya harus yaaa.... jadinya minum antidepresan deh (pakai konsul dokter harus). Ternyata sebesar itu peran ayah saya dalam dukungan hidup saya. Saya baru pahami dia adalah sumber rasionalisasi kehidupan... Ibu saya menjadi rasional karena dia.... dan ketika ayah saya meninggal, sulit sekali berinteraksi dengan Ibu sayaa... sampai saat ini saya masih harus selalu ajari diri saya untuk damai, sabar, sabar, sabar. 

Ketakutan saya akan banyak hal juga muncul, untuk belajar saya takut, overthinking dan takut dinilai orang lain tidak capable.. jadi isinya kepala saya ketakutan dan rendah diri selalu. Kegagalan datang makin buat saya terpuruk. Belum lagi saya bodoh berkomunikasi, ekspektasi orang terhadap saya tak terpenuhi, saya nya juga rendah diri menanggap kemarahan orang sebagai akhir dunia saya... jadinya saya tambah terpuruk.

Kadang semua kemarahan kepada saya, saya baperin banget.. alhasil direspon dengan insecurity diri saya, yang membuat kondisi tambah runyam, sedih si, dalam kondisi ini saya juga jadi sering dengar kata-kata yang tak mengenakan jiwa saya sebenarnya.. tapi saya sulit juga menghargai jarak dan boundaries, harusnya tak apa untuk melipir dulu-- tapi karena ketakutan saya, bayangan kalau orang melipir dari saya, saya akan ditinggal, saya tidak berguna dan saya akan hanya jadi sampah kehidupan, sulit untuk dalam momen momen penuh emosi saya memahami bahwa berjarak itu perlu. Nah alhasil karena ini, perasaan saya jadi tak enak. Tapi ini kadang-kadang, bagian dari dinamika hidup... responnya saya yang memang insekyur yang buat kondisi juga jadi makin-makin. 

Belum lagi pun di lingkaran terdekat saya, saya juga melempem juga terpuruk. Ada aja momennya abuse bisa dilakukan terhadap saya, karena saya anaknya diem diem ajaa. Mau coba bicara, gemeter duluan, kalah juga ujungnyaa wkwkwk, Jadinya pulaa oh iya aja di chat whatsapp. Tapi juga masih belum let go gitu, ya begitulah.

Tapiiii si yaaa wkwkwk, gimana ya caranya buat tidak overthinking dan tidak insyesyur soal ditinggal, dibenci, jadi sampah, HARUSNYA KAN YA BOMAT AJA ANJIR. Dan harusnya juga yaudah aja, kadang ada emang manusia manusia yang beda cara kontrol emosyennya dan harusnya diyaudahin aja, tapi jangan juga saya perlu obsessed buat hold them accountable, kadang ngga perlu kan ya, tapi sampe sekarang masih mikir perlu si, tapi belum berhasil. 

Ini tulisan dibangun dalam rangka menenagkan hati, sesederhana nulis ini aja udah bikin legaa banyaak, liat kembali kiri kanan, tapi belum tau mau apa si, paling iya iya aja lagii.... semangat semangat semangat. 

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home