Saturday, May 30, 2015

Senyum Kedua

Ingat tidak waktu itu aku pernah marah karena kamu senyum?
Saat itu aku sangat kesal karena senyummu sungguh bahagia, senyum yang semua gigimu terlihat dan semangatmu untuk memulai hari itu terlihat begitu membara.

Kali ini aku lihat lagi senyum itu.
Kalau yang sebelumnya hitam-oranye tampak bagus, yang sekarang biru-toska juga indah.

Dan aku juga marah lihat senyummu yang kedua ini.
Aku memang payah, tidak senang lihat kamu tersenyum.


Labels:

Thursday, May 14, 2015

Kasanova

Part 4

Dunia

"Kita pergi ke Roma, masuk colosseum, liat matador memainkan kain merahnya."

"Tidak lupa ke Belanda ya, ambil tulip"

"Loh emang tulip? yakin?"

"Lah iya dong, kan lambang negaranya tulip."

"Oh iya deh, buat apa?"

"Buat foto aja."

"Yeee, kalau gitu bukan diambil."

"Tunggu-tunggu, Swissnya belum, naik kereta, lihat padang rumput hijau."

"mmm ngga beli jam aja?"

"Oh iya deh boleh."

"Sebelumnya kita ini udah ke Mekkah kan?"

"Yaudah lah, kan udah"

"Udah apa?"

"Udah siap-siap keliling dunia"





Bukan!
Aku sudah keliling dunia, sebelum akhirnya tertidur.









Labels:

Monday, October 6, 2014

Kasanova

part 3

Rasa


Dendam semalam masih terasa menyesakkan. 
Tak pernah lupa bagaimana rasanya berharap begitu besar namun kemudian jatuh tersungkur ke dasar bumi, diabaikan, dilupakan.

Rasanya seperti …

Rasa yang memuakkan yang membuat diri tak ingin melanjutkan hari.

Rasa yang meransang gemuruh benci untuk keluar

Rasa yang mengumpulkan kerikil-kerikil kesal yang kemudian siap menjadi amarah

Rasa yang membawa hasrat ingin mengusir dunia untuk  pergi sesaat

Rasa yang,



yang sejatinya hanya sebuah malu yang tak bertepi




Itu rasa setengah hari, hari itu.

Setengah hari setelahnya? 

Rasa kita.

#3

Labels:

Monday, September 29, 2014

Kasanova

Part 2

Kata


Di hari ke-25 bulan itu, di tengah waktu yang mulai mengusir matahari untuk pergi, dia muncul. Bukan raganya yang seketika hadir menganga, kata demi kata yang terangkai ciptaanyalah yang muncul menemani bulan menyelimuti malam itu.

Dia, si penciptanya, entah berjuang ataupun tak berjuang berhasilkan mengumpulkan serpih aksara-aksara dunia untuk kemudian menjadikannya kata demi kata yang terangkai, nan indah.

Kata demi kata yang terangkai itu mengimplikasikan senyum malu dan tawa kecil setelahnya.
Kata demi kata yang terangkai itu membawa sunyi beranjak, untuk pergi sebentar menemui hiruk di luar sana.

Terangkai apik, yang mengentaskan kagum dan terpesona untuk dia, si penciptanya.
Memaksa butir-butir asa untuk menelisik waktu, menerka kata-kata apalagi yang akan terangkai oleh dia, si penciptanya.


Membawa kita saling terjaga, menelusuri malam.



Di hari ke-25 bulan itu, kata demi kata yang terangkai ciptaannya muncul menemani bulan menyelimuti malam.

Labels:

Monday, September 22, 2014

Kasanova

Part 1
Senyum.
 
Dia tersenyum di hari Minggu itu, bukan senyum yang sebenarnya. Senyum yang diseringaikannya adalah senyum yang berbeda. Senyum penutup air mata yang semalam tak terelakkan.

Siapa yang tak akan menangis semalaman, ditinggal idola pertama dan abadi sepanjang hidup.

Menurutnya, tak apa semalam air mata ini tak henti bercucuran. Tetapi, hari ini, di tengah mata-mata lain yang tak henti mengucurkan air, dia memaksa matanya untuk tak berair sedikitpun untuk menguatkan.

Senyum tersebut jelas senyum yang berbeda, senyum penuh pesan yang bersuara, menyuarakan pesan bahwa tak akan ada yang bisa mengelakkan garisNya. Senyum yang secara besar menerima nyata di hadapan mata bahwa dia ataupun kita hanyalah pemain peran di lakonNya.

Senyum yang tak lupa mengucap doa dan keyakinan bahwa apapun yang terjadi sekarang adalah apa yang seharusnya terjadi sekarang.

Dia yang tersenyum tersebut, lewat senyum yang berbeda itu berusaha membangkitkan bahagia dalam hal apapun karena dia percaya setiap hal yang terjadi pasti selalu menyisipkan sesuatu untuk disyukuri.

Mungkin dia berpikir senyum ini pantas diseringaikan, bentuk bangkitnya bahagia untuk disyukuri melihat banyak dari kita berdatangan. 

Oh, bagaimanapun dia, dia memang pandai membangkitkan bahagia, apalagi bahagia untuk dia yang dekat dengannya dan kita.




di hari Minggu itu dia tersenyum, senyum penutup air mata yang semalam  tak terelakkan

Labels:

Wednesday, August 27, 2014

Sabit

Sms pada smartphoneku kali ini begitu membuat senyum ini tak bisa dielakkan. Padahal tak ada yang dengan hati menuliskan pesan tersebut kepadaku, mesin komputerlah yang menuliskan pesan tersebut, diawali dengan kata [KREDIT], siapa yang tak bahagia karenanya. Aku akui aku tak pernah bisa tak bahagia menjalani momen ini walaupun sudah 6 kali aku merasakannya, 1 kali tiap bulannya.

Namun, perlu aku nyatakan bahwa sms komputer tersebut kali ini sedikit berbeda dari sms-sms pada bulan lainnya. Sms komputer bulan ini berhasil menghapus sedikit luka ku kemarin akibat ditinggalkan yang paling setia. Honda Tiger 2009 ku lah yang paling setia. Kebersamaanku dengannya ternyata harus diakhiri di tahun kelima perjalanan kami. Memang manusia paling murka di muka bumi yang begitu saja merampasmu di tengah hari jumat minggu lalu itu. Aku tak kuasa begitu saja mengganti dirinya yang paling setia tersebut, karena hati ini sudah terlanjur sayang dan dompet ini sudah kepalang melayang untuk sebidang bangunan di pinggir kota Depok. Iya, Aku belum bisa membeli kendaraan baru lantaran mengejar targetku untuk membeli istana kecilku di masa depan.

Yang aku dirindukan adalah momen ini, dimana akhirnya aku kembali pulang ke Tanjung Barat tempat tinggalku setelah selama tiga hari penuh aku bermalam di tempatku bekerja menundukkan kepalaku di depan layar komputer kubikelku merajut kata esok hari untuk kuajukan kepada pimpinan redaksi. Aku terbiasa melewati momen ini, terlebih momen pasca sms yang aku ceritakan tadi terjadi bersamanya yang paling setia itu.

Aku dan dirinya yang paling setia tersebut sebagai 2 makhluk penakluk malam menelusuri masih padatnya jalanan ibukota kendati hari sudah mulai larut. Aku terbiasa mengajak dirinya yang paling setia tersebut untuk menatap indahnya langit malam di tengah kerisauan hati menanti lampu lalu lintas berganti warna. Aku memberi tahu dirinya  yang paling setia tersebut tentang suatu keindahan di langit yang tak pernah lupa untuk aku tatap, Sabit namanya. Kujelaskan padanya yang paling setia tersebut bahwa Sabit adalah paripurna keindahan yang dengan penuh cinta Tuhan ciptakan, sehingga tak pernah sekali pun Sabit tak menebar kesejukan untuk penatapnya.

Tapi, sekarang tak ada yang menemaniku menatap Sabit, tak ada yang akan mendengar jutaan pujaanku untuk Sabit, karena dirinya yang paling setia tersebut telah pergi. Aku mengikhlaskannya.

Tapi, begitu aku melangkahkan kaki keluar kantorku kucari dirimu, Sabit, tak kudapati dirimu. Teman-teman mu lainnya pun tak kulihat. Aku mulai risau, mulai berpikir bahwa guyuram air dari langit akan segera tiba. Sabit, dimana engkau?

Benarlah 10 menit mencari keberadaan Sabit, guyuran hujan mulai membasahiku, aku kemudian bergegas menyetop angkutan kota ke arah Stasiun Tebet. Di dalam angukutan kota tersebut aku terus mencari keberadaan Sabit melalui kaca namun malah gemuruh petir yang kudapati. Mungkin malam ini Sabit sedikit lelah untuk berbagi sejuk. Biarlah, sekarang saatnya aku berfokus menatap lawan bicaraku di sebalah kananku, supir angkutan kota No 44 jurusan Karet-Kampung Melayu.

"Stasiuuun, stasiuuuun."ucap supir angkutan yang kunaiki beberapa menit kemudian.
Aku bergegas untuk membuka pintu angkutan yang berada di sebelah kiriku.
"Ini, Pak, Kuningan ya."sahutku seraya menyodorkan 2 lembar uang 2 ribu rupiah kepada lawan bicaraku tadi yang belakangan kuketahui bernama Bapak Ahmad.

Aku berlari sekuat tenaga tanpa sempat mencari si indah Sabit kembali, karena hujan akan semakin menghajarku jika aku tak bergegas.

Tibalah aku di tepian peron menanti Commuter Line yang hendak aku tumpangi. Saat menunggu tersebut pun aku masih sesekali mencari keberadaan Sabit, karena memang saat itu hujan mulai berangsur menarik diri. Tapi Sabit belum juga nampak, hingga akhirnya aku melangkah memasuki gerbong ke-5 kereta yang kutumpangi.
 
                                     ***
Menurutku Sabit selain merupakan paripurna keindahan yang menebar cinta, ia juga merupakan lambang kesederhanaan yang memancarkan kesejukan. Sabit tak perlu begitu menunjukkan dirinya, tak perlu memperlihatkan semua yang ia miliki, untuk memberikan ketenangan. Sabit juga tak pernah membanggakan diri dengan keseluruhan dirinya menarik riak air di seluruh penjuru dunia agar khalayak ramai membicarakannya. Harmoni keindahan, kesederhanaan, dan kesejukan itulah yang membuatku tak berhenti memuja sabit.
                                     ***

Aku pun tertidur kelelahan setelah satu stasiun kulewati. Aku kemudian terbangun di Stasiun ke-5 ku dimana di stasiun berikutnyalah aku harus turun. Seketika terbangun, aku menyadarkan kembali diriku, memperbaiki posisi dudukku dan menyeka ciplakan telapak tanganku dipipi kiriku.

5 menit berselang, tibalah aku harus bangun dari tempat dudukku keluar melalui pintu kanan kereta.

Tepat di depan pintu yang tengah terbuka, aku terkejut, jantung dan aliran darahku serasa berhenti sejenak berganti dengan angin sejuk yang kurasa menyelimuti permukaan kulitku. 

Sabit nyata.

Aku menatap Sabit nyata di hadapanku. 
Mata indah, dagu yang begitu tegas dan suara lembut penuh kesederhanaan.

"Permisi, mas."
Sabitku seketika berlalu dengan sejuknya yang masih tertinggal di dada ini.

Kereta kemudian kembali berjalan.



Menanti harmoni keindahan, kesederhaaan dan kesejukan kembali, kita hanya perlu menunggu.

"Sampai jumpa, Sabit."ucapku menatap langit.




Labels:

Sunday, July 20, 2014

Woalah, Maaf ya.

Kuputuskan untuk menyauti pesan singkat dari handphoneku yang berisikan sebuah undangan berbuka puasa entah dari siapa, namun pesannya mengundangku untuk berbuka puasa bersama dengan perkumpulam mahasiswa universitas baruku asal provinsi sumatera barat. Aku setengah terkejut mendapati pesan tersebut, namun setelah kuingat-ingat lagi ternyata 2 bulan yang lalu ketika aku pertama kali menginjakan kaki di kota ini untuk melakukan pendaftaran ulang penerimaan universitas baruku aku pernah secara sengaja entah angin darimana  aku mengunjungi stand perkumpulan mahasiswa yang berasal dari sumatera barat di universitas baruku. Kurasa dari buku tamu yang aku isi tersebutlah mereka mendapati kontakku.

"Dimas Aditya Raziq_2012_hadir"
Begitu pesannya ku balas.


Pukul 17:35, aku tiba di tempat sesuai dengan undangan dalam pesan singkat di handphoneku, 35 menit keterlambatan menurutku masih bisa ditoleransi untuk manusia baru penjamah kota ini. Suasana tak terlalu ramai, tidak seperti bayanganku. Hanya ada dua meja panjang yang dikelilingi masing-masing oleh sekitar 20 bangku. Aku memilih untuk duduk di meja sebelah kanan di bangku baris kedua, menunggu gaungan adzan maghrib yang di daerah asalku tak selama ini.

"Aneh, bukankah mereka semua disini harusnya sudah bosan dengan semua jenis makanan ini?!"gumamku dalam hati sedikit menggerutu di hadapan piramida piring berisi sambal hijau, sambal merah, ayam bakar, ayam gulai, ayam pop, rendang dan dendeng batokok.

Aku memang terlahir untuk tidak menyukai jenis makanan seperti ini, makanan padang, meski sedari kecil aku sudah terbiasa dihadapkan dengan makanan-makanan seperti ini. Mama dan papa masih begitu setia menyantap makanan padang kendati logat mereka kini beranjak kejawa-jawaan. Iya, aku dilahirkan di Kota Semarang, Jawa Tengah, tapi hidup di keluarga Padang Kota tulen yang merantau ke tanah Wingko Babat. Papaku memiliki usaha mebel yang sudah berumur hampir seusiaku tepat di sebelah utara Simpang Lima alun-alun kota Semarang. Seumur hidup bergulat dengan tempe mendoan dan tahu petis sepulang sekolah lah yang membuatku jauh lebih mencintai kecap ketimbang apa yang mama sebut sambal lado hijau.

"Sanduak lah, ba'a tamanung." Ucap seorang mas-mas yang sepertinya bukan mas mas di sebelahku.
"Iya, mas."jawabku spontan yang kemudian membuat alis mas-mas yang sepertinya bukan mas mas itu naik.
"Loh kok mas?"jawabnya seketika mengubah logatnya.
"Hehe, jangan bingung dulu toh mas. Aku kan emang orang jawa, eh ngga deh, saya asalnya dari SMA 1 Semarang mas, tapi mama papa asli Padang, mas. Nah gara-gara itu deh saya ada disini. Saya bisa kok bahasa Padang, saketek."jawabku diakhiri tawa kami bersama.

Itulah awal perbincangan kami, antara aku dan mas uda Angga. Aku habis ditertawai olehnya karena logat medogku yang tak hilang meski sudah kucoba untuk berbahasa minang, sebagai bonus untuk lebih membahagiakannya, dia memintaku untuk memanggilnya mas-uda yang sebenarnya membuatku geli, mas-uda Angga. Dan sebagai tuntutan maaf dariku, aku memintanya untuk mengantarku pulang ke tempat kosku.

"Dim, di fakultasmu ada sepupu aku, dari SMA 2 Bukittinggi, nadia, kenalan deh, cantik."ucapnya sambil berlalu dengan vespa piaggionya tepat di pagar tempat kosku.

Walapun begitu aku dengar dan masih ingat inti ucapannya, Nadia, cantik, fakultasmu. Insting pemudaku tak kan pernah hilang untuk urusan ini.


Tepat! Hari ini adalah hari dimana aku harus bergegas ke kampusku untuk menghadiri hari orientasi pertamaku. Dengan segala rupa yang diwajibkan aku langkahkan kaki ini menuju tempat yang tak pernah ku tau apa yang akan terjadi di dalamnya.

Sahut-sahut bingar suara para senior menggema kesana kemari yang membuat kami harus bergegas membentuk barisan berbanjar, tiba saatnya salah satu senior dengan suara besar menggelegar memanggil nama kami satu per satu untuk pembagian kelompok. Aku sempat terlupa rencana kepemudaanku tadi malam yang kemudian kembali teringat dengan gemaan 'Nadia Ayu Safitri kelompok 28'.

"Oh jadi itu yang namanya Nadia."gumamku dalam hati. 

Betul seperti yang dikatakan mas-uda Angga, ia cantik, begitu cantik menurutku. Rambutnya diikat indah tepat di tengah kepala belakangnya menjulur panjang, hitam legam. Raut mukanya cerah dengan mata yang berpendar dihiasi oleh kacamata berbingkai hitam nan elegan. Patahan tulang pipinya begitu tegas indahnya senada dengan senyum tipisnya yang begitu hidup, lebih cantik dari cantik.

"Hai Nadia."sahutku menyambut gadis lebih cantik dari cantik itu keluar dari mushola depan kantin kampus sore hari seusai hari orientasi pertamaku , iya, sendari tadi aku membuntutinya.
Gadis lebih cantik dari cantik itu menatapku sesaat dengan kerut dikeningnya, nampak bigung tak bersahabat.
"Awak dimas, nad. Kawan uda Angga, nan di Bukit Tinggi."tambahku yang menurutku adalah solusi jitu untuk hilangnya kerut di kening Nadia.
Ia terperanga. 
"Apa mas?"suara medog tetiba keluar dari bibir indah Nadia.
Mendengarnya aku jauh lebih terperanga, mengapa ia berlogat sama denganku?.
"Kamu nadia yang sepupunya mas Angga bukan?"tanyaku kebingungan 
"yang dari SMA 2 Bukittinggi?" 
"Bukan ya?"
"Bukan toh?"
"Mas Angga yang tinggi besar."
tubuh dan ucapku mulai bertingkah aneh seketika.
Nadia tampak makin bingung
"Bukan, mas, aku dari SMA 2 tapi SMA 2 Semarang. Mas kayaknya salah orang."jawabnya

"Woalah, maaf ya."


Begitulah pertemuanku dengannya.








"Mas dimas, alhamdulillah cerpenmu wes di-acc WO buat jadi souvenir resepsi kita, loveyou!"
-Nadia Ayu Safitri Raziq(delivered:05.13.18..12.00am)

Labels: